Seigala Berbulu Merah


Terngaung dalam heningnya malam
Tertegunlah menghadap sang bulan
Bergema menakutkan pikiran
Mencari mangsa malam yang kelam

Tersantaplah ternak yang terdiam
Di kandanglah yang hangat perlahan
Ia mendekat lalu menerkam
Ternak yang gemuk pun ia telan

Bulu yang berwarna hitam legam
Menjadi merah oleh percikan
Percikan darah ternak diterkam
Sang bulu merah tetap memakan

Fajar datang kabur tanpa salam
Tanpa pamit kandang berserakan
Pemilik marah tanpalah kelam
Memburu bulu merah sialan

Posted on 1 Desember 2012, in Puisi and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: