Kisah Klasik Berdawai Terhenti


Tersirat tanya terlampau batas
Terpental jauh mimpi teratas
Berbanding tihang kawat terutas
Mengikat bayang hati tak pantas

Bercahya halus mentari hias
Berdawai sinar tersirat bias
Bulan purnama hanyalah rias
Pemulih jiwa berkatalah kias

Hancur, remuk, terbantinglah puas
Badan yang hancur tertampar luas
Berkering raga dahaga terkuras
Diatas kertas tinta yang berkuas

Pewarna klasik musik deras
Hujanlah habis terbatas
Mimpi terpendam hangus berparas
Bercermin hati berkarang keras

Posted on 28 Desember 2012, in Puisi and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: