Sistem Sirkulasi (Sistem Vaskular)


darah 1

Dua jalur utama sirkulasi adalah pulmonary (ke dan dari paru – paru) dan sistematik (dari dan kedalam tubuh). Arteri pulmonary membawa darah dari jantung ke paru – paru. Di paru paru terjadi pertukaran gas. Vena Pulmonary membawa darah dari paru – paru ke jantung. Aorta adalah arteri utama dari sirkuit sistematik. Pembuluh darah vena adalah vena utama dari sirkuit sistematik. Arteri koroner mengirim darah beroksigen, makanan, dan lain – lain ke jantung. Binatang banyak yang memiliki sistem portal, yang dimulai dan berakhir di kapiler, seperti antara sistem pencernaan dan hati.

Ikan memompa darah dari jantung ke insang, dimana terjadi pertukaran gas, dan kemudian ke seluruh badan. Mamalia memopa darah ke paru – paru untuk melakukan pertukaran gas, kemudian kembali ke jantung untuk memompa darah keluar menuju sirkulasi sistematik. Aliran darah hanya satu arah.

1. Darah

blood

Plasma adalah cairan darah. Darah binatang menyusui terdiri atas cairan (plasma), sejumlah sel – sel dan fragmen sel. Plasma adalah sekitar 60% dari volume darah, sel dan fragmen adalah 40%. Plasma memiliki 90% air dan 10% bahan – bahan larut termasuk protein, glukosa, ion – ion, hormon, dan gas. Plasma bekerja sebagai penyangga, mempertahankan pH sekitar 7,4. Plasma mengandung nutrisi, sampah, garam, protein, dan lain – lain. Protein dalam darah membantu transportasi molekul besar, seperti kolestrol.

2. Neutrofil

neutrofil

Granulosit ini memiliki granula yang berwarna terang dan sangat kecil (granula sangat sulit untuk dilihat). Nukleus seringkali adalah multilobus dengan lobus – lobus yang terhubung dengan lembaran tipis material nuclear. Sel ini mampu phagocyt sel asing.

Saat menghitung Differential WBC dari darah yang normal, sel jenis ini akan menjadi yang paling banyak. Biasanya, neotrofil sebanyak 50% – 70% dari seluruh leukocytes. Jika jumlah melebihi jumlah ini, biasanya disebabkan adanya infeksi akut, seperti radang usus buntu, cacar, atau demam reumatik. Jika jumlahnya sangat kurang, mungkin disebabkan oleh adanya infeksi virus seperti virus Influenza, Hepatitis, atau Rubella.

3. Eosinofil

6B

Granulocyte besar ini memiliki granula (A) yang bersifat acidophilic dan berwarna pink (atau merah) di dalam preparasi. Mikrograph di samping sebenarnya berwarna untuk menggambarkan fitur ini. Nukleus seringkali memiliki dua lobe yang dihubungkan dengan selembar material nuclear. Granula berisi enzim pencernaan, terutama efektif terhadap parasit cacing dalam bentuk larva. Sel ini juga phagocyt antigen – antibodi kompleks.

Sel ini kurang dari 5% dalam WBC’s. Peningkatan melebihi jumlah ini mungkin dikarenakan penyakit parasit, asma bronchial atau demam karena alergi.
Eosinopenia mungkin terjadi ketika tubuh sangat stress.

4. Basofil

basofil

Basophilic granula di dalam sel ini berukuran besar, berwarna biru tua keunguan, dan seringkali mereka banyak sekali sehingga menutupi nukleus. Granula ini berisi histamisnes (menyebabkan vasodilation) dan heparin (antikoagulan).

Dalam setetes Differential WBC jarang kita melihat granula jenis karena mereka berjumlah kurang dari 1% dari semua leukocytes. Jika dihitung jumlahnya tinggi melebihi jumlah normal, hemolytic anemia atau chicken pox (cacar air) mungkin menjadi penyebabnya.

5. Limfosit

SEM_Lymphocyte

Limfosit merupakan sel granular dengan cytoplasm yang sangat jelas berwarna noda biru pucat. Nukleus ini sangat besar untuk ukuran sel berwarna ungu tua. (Perhatikanlah, bahwa nukleus itu hampir mengisi sel yang meninggalkan lingkaran tipis sitoplasma). Sel ini jauh lebih kecil dibandingkan dengan tiga granulocytes (semuanya berukuran sama). Sel – sel ini berperan penting dalam merespon kekebalan. Limfosit T bekerja melawan sel yang terinfeksi virus dan sel tumor. Limfosit B memproduksi antibodi.

Limfosit adalah leukosit paling banyak kedua, berjumlah 25 – 35% dari sel dihitung oleh Differential WBC Count. Jika jumlah sel tersebut melebihi jumlah yang normal. satu kemungkinannya terserang infeksi mononucleis atau infeksi kronis, pasien AIDS harus sangat diperhatikan tingkat T-selnya, sebagai indikator dari aktivitas virus AIDS.

6. Monosit

Monosit

Monosit (bahasa Inggris: monocyte, mononuclear) adalah kelompok darah putih yang menjadi bagian dari sistem kekebalan. Monosit dapat dikenali dari warna inti selnya.

Pada saat terjadi peradangan, monosit :

* bermigrasi menuju lokasi infeksi
* mengganti sel makrofaga dan DC yang rusak atau bermigrasi, dengan membelah diri atau berubah menjadi salah satu sel tersebut.

Monosit diproduksi di dalam sumsum tulang dari sel punca haematopoetik yang disebut monoblas. Setengah jumlah produksi tersimpan di dalam limpa pada bagian pulpa. Monosit tersirkulasi dalam peredaran darah dengan rasio plasma 3-5% selama satu hingga tiga hari, kemudian bermigrasi ke seluruh jaringan tubuh. Sesampai di jaringan, monosit akan menjadi matang dan terdiferensiasi menjadi beberapa jenis makrofaga, sel dendritik dan osteoklas.

Umumnya terdapat dua pengelompokan makrofaga berdasarkan aktivasi monosit, yaitu makrofaga hasil aktivasi hormon M – CSF dan hormon GM – CSF. Makrofaga M – CSF mempunyai sitoplasma yang lebih besar, kapasitas fagositosis yang lebih tinggi dan lebih tahan terhadap infeksi virus stomatitis vesikular. Kebalikannya, makrofaga GM – CSF lebih bersifat sitotoksik terhadap sel yang tahan terhadap sitokina jenis TNF, mempunyai ekspresi MHC kelas II lebih banyak, dan sekresi PGE yang lebih banyak dan teratur. Setelah itu, turunan jenis makrofaga akan ditentukan lebih lanjut oleh stimulan lain seperti jenis hormon dari kelas interferon dan kelas TNF. Stimulasi hormon sitokina jenis GM – CSF dan IL-4 akan mengaktivasi monosit dan makrofaga untuk menjadi sel dendritik.

7. Erithrosit

sel darah

Sel darah merah atau eritrosit adalah jenis sel darah yang paling banyak dan berfungsi membawa oksigen ke jaringan-jaringan tubuh lewat darah. Bagian dalam eritrosit terdiri dari hemoglobin, sebuah biomolekul yang dapat mengikat oksigen. Hemoglobin akan mengambil oksigen dari paru-paru, dan oksigen akan dilepaskan saat eritrosit melewati pembuluh kapiler. Warna merah sel darah merah sendiri berasal dari warna hemoglobin yang unsur pembuatnya adalah zat besi.

Eritrosit merupakan bagian utama dari sel-sel darah. Setiap milliliter darah mengandung rata-rata sekitar 5 miliar eritrosit (sel darah merah),yang secara klinis sering dilaporkan dalam hitung sel darah merah sebagai 5 juta per millimeter kubik. Eritrosit berbentuk lempeng bikonkaf,yang merupakan sel gepeng berbentuk piringan yang dibagian tengah dikedua sisinya mencekung,seperti sebuah donat dengan bagian tengah mengepeng bukan berlubang. dengan diameter 8 µm, tepi luar tebalnya 2 µm dan bagian tengah 1 µm.

a17_eritrocite

Sel darah merah memiliki struktur yang jauh lebih sederhana dibandingkan kebanyakan sel pada manusia. Pada hakikatnya, sel darah merah merupakan suatu membran yang membungkus larutan hemoglobin (protein ini membentuk sekitar 95% protein intrasel sel darah merah), dan tidak memiliki organel sel, misalnya mitokondria, lisosom atau aparatus Golgi. Sel darah manusia, seperti sebagian sel darah merah pada hewan, tidak berinti. Namun, sel darah merah tidak inert secara metabolis. Melalui proses glikolisis, sel darah merah membentuk ATP yang berperan penting dalam proses untuk memperthankan bentuknya yang bikonkaf dan juga dalam pengaturan transpor ion (mis. oleh Na + (-K) + ATPase dan protein penukar anion serta pengaturan air keluar-masuk sel. Bentuk bikonkaf ini menigkatkan rasio permukaan-terhadap-volume sel darah merah sehingga mempermudah pertukaran gas. Sel darah merah mengandung komponen sitoskeletal yang berperan penting dalam menentukan bentuknya.

8. Sel Sabit

sel-sabit-ts-dlm

Anemia sel sabit adalah kondisi serius di mana sel-sel darah merah menjadi berbentuk bulan sabit, seperti huruf C. Sel darah merah normal berbentuk donat tanpa lubang (lingkaran, pipih di bagian tengahnya), sehingga memungkinkan mereka melewati pembuluh darah dengan mudah dan memasok oksigen bagi seluruh bagian tubuh. Sulit bagi sel darah merah berbentuk bulan sabit untuk melewati pembuluh darah terutama di bagian pembuluh darah yang menyempit, karena sel darah merah ini akan tersangkut dan akan menimbulkan rasa sakit, infeksi serius, dan kerusakan organ tubuh.

9. Trombosit

immune-system_1

Keping darah, lempeng darah, trombosit adalah sel anuclear nulliploid (tidak mempunyai nukleus pada DNA-nya) dengan bentuk tak beraturan dengan ukuran diameter 2-3 µm yang merupakan fragmentasi dari megakariosit. Keping darah tersirkulasi dalam darah dan terlibat dalam mekanisme hemostasis tingkat sel dalam proses pembekuan darah dengan membentuk darah beku. Rasio plasma keping darah normal berkisar antara 200.000-300.000 keping/mm³, nilai dibawah rentang tersebut dapat menyebabkan pendarahan, sedangkan nilai di atas rentang yang sama dapat meningkatkan risiko trombosis. Trombosit memiliki bentuk yang tidak teratur, tidak berwarna, tidak berinti, berukuran lebih kecil dari eritrosit dan leukosit, dan mudah pecah bila tersentuh benda kasar.

Posted on 4 Februari 2013, in Informasi, Pendidikan, Pendidikan Kesehatan, Tsumasaga Rainbow and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: